Polusi Udara Sebabkan Hampir 60 Persen Penyakit di Jakarta

Berdasarkan berita media Online CNN menyampaikan bahwa Tak dapat dimungkiri, polusi di kota besar seperti di Jakarta sudah sangat memprihatinkan. Disadari atau tidak, polusi tersebut menggerogoti tubuh dan akhirnya menyebabkan penyakit, bahkan kematian.

Menurut penelitian dari Universitas Indonesia, hampir 60 persen pasien di rumah sakit Jakarta menderita penyakit yang disebabkan oleh polusi udara.

Dari keseluruhan pasien di rumah sakit Jakarta, sekitar 1,2 juta atau 12,6 persen di antaranya memiliki keluhan asma atau bronkitis.

“Sementara posisi tertinggi ditempati oleh ARI atau Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), yaitu 2,4 juta kasus atau memakan porsi 25,5 persen,” ujar peneliti perubahan iklim dan kesehatan lingkungan dari Universitas Indonesia, Budi Haryanto, dalam jumpa pers di Belly Clan, Jakarta, Kamis (21/5).

Menurut Budi, keadaan ini sangat memprihatinkan. Pasalnya, sepertiga kematian di seluruh dunia disebabkan oleh penyakit komplikasi dari gangguan pernapasan.

Di Jakarta sendiri, penyakit pernapasan yang diidap warga kebanyakan diakibatkan polusi kendaraan bermotor. Bahkan, walaupun mengendarai mobil ber-AC, potensi menghirup debu tetap banyak.

“Kami meneliti orang yang harus berangkat setiap hari dari Depok ke Gatot Subroto dengan mobil ber-AC. Selama dua jam perjalanan, debu yang masuk tetap banyak,” tutur Budi.

Budi menjabarkan bahwa di Jakarta ada banyak partikel debu yang sangat kecil, yaitu hingga 2 mikron. “Debu ini bisa dengan mudah masuk ke celah mobil dan mudah juga masuk ke saluran pernapasan,” kata Budi.

Lebih parah, penyakit tersebut tak hanya menyerang orang dewasa, tapi juga generasi muda. Selain itu, potensi terserang gangguan pernapasan juga tak mengenal tempat.

Hal ini terbukti dari penelitian lain yang dijalankan Budi. Menurut data pemerintah, Jakarta Utara merupakan daerah tinggi polusi, bertolak belakang dengan Jakarta Selatan.

Budi mengambil sampel dari masing-masing 196 siswa dari 14 sekolah dai Jakarta Utara dan Jakarta Selatan. Tim peneliti meminta guru untuk mencatat setiap anak yang mengeluh batuk atau pilek.

Hasil penelitian menunjukkan, keluhan hidung tersumbat dan batuk pilek di daerah tinggi polusi terjadi 3-4 hari sekali. Di Jakarta Selatan hanya berbeda sehari, yaitu 4-5 hari.

“Ini menunjukkan bahwa hubungan penyakit polusi dan daerah tidak signifikan. Semua daerah sama saja potensinya. Sekarang semua daerah tinggi polusi,” kata Budi memaparkan.

Guna mencegah meningkatnya penyakit gangguan pernapasan akibat polusi, Budi mengajak masyarakat untuk sadar diri menggunakan masker terutama saat dalam perjalanan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top